Mengenal Kota Sewun

by Yg punya blog

Sewun adalah daerah lembah terbesar di Hadramaut, terletak di sebelah barat, kira-kira 12 mil dari kota Syibam, dan 22 mil sebelah timur Kota Tarim. Konon, dulu kota ini merupakan persinggahan para musafir. Mereka senantiasa berhenti dan rehat sejenak di kedai kopi satu-satunya di daerah yang masih lenggang itu. Kedai kopi itu ditinggali seorang perempuan bernama Sewun. Kemudian, ketika daerah itu telah ramai, oleh penduduk daerah tersebut diberi nama Kota Sewun, sebagai penghargaan atas kebaikan hati wanita itu.

Kota Sewun pertama kali disebut dalam sejaran pada abad ke-4 M. Seperri tertera dalam sebuah batu tulis yang ditengarai dibuat pada masa Raja Dhammar Ali Yahbar (Abad ke-4 M), salah satu raja Saba yang kekuasaannya meliputi Saba, Dzi-Raidhan, Hadramaut dan Yamanat.

Disebutkan dalam batu tulis itu, pasukan kerajaan telah sampai ke  lembah Hadramaut dan mengurung Syibam, Rathaghtam, Sewun, Muraimah, Arahil dan Tarim. Pasukan ini telah menghancurkan 60.000 penyangga pohon anggur. Batu tulis ini memberi informasi, Sewun telah ada sejak abad ke-4 M. Di kota ini, dahulu ada benteng pertahanan yang mengindikasikan Kota Sewun sebenarnya sudah ada sejak beberapa kurun waktu sebelum peristiwa tersebut. Sedangkan penghancuran ribuan penyangga pohon anggur oleh pasukan Saba menyimpulkan, Kota Sewun dahulu mempunyai perekonomian kuat dengan kebun anggur yang luas. Meskipun kenyataannya, Kota Sewun sekarang gersang.

Di masa Sahabat Nabi, Sewun hanya dikenal sebagai desa yang terpencil, cabang dari Kota Tarim. Sampai datangnya zaman pemerintahan Umawiyah. Pada tahun 129 H, administrasi kota Sewun dialihkan sebagai cabang Kota Syibam yang pada saat itu menjadi Ibu Kota Abakhiyyin.

Di kota ini terjadi beberapa pergantian pemerintahan. Pada tahun 593, Sewun menjadi pusat pemerintahan Banu Haritsah. Pada tahun 922 H menjadi Ibukota pemerintahan Badr Abu Thuwairiq (922 H – 977 H). Pada saat itu, penyatuan kota atau perkotaan diperluas hingga kota Ain Ba Ma’bad barat dan Kota Dhafar Timur dalam kawasan Sewun.

Pada abad ke-19 H, Dinasti Yafi’ dapat menguasai sejumlah kota di Hadramaut. Dan Dinasti al-Kathiri menguasai Kota Sewun sekaligus menjadikannya sebagai Ibukota kerajaan di tahun 1273 H. Lalu mereka membangun benteng yang terkenal dengan nama al-Weil. Di dalamnya terdapat istana (Qashr) Sulthan dan Istana ats-Tsaurah sebagai tempat kediaman Sulthan al-Kathiri, yaitu Ghalib bin Mukhsin al-Kathiri.

Setelah kolonialisme Inggris runtuh, berakhir pula kekuasaan Dinasti al-Kathiri. Sewun menjadi kotamadya kelima bagian utara propinsi Hadramaut.

Sejak bad ke-7, Sewun mengalami kemajuan pesat. Dari sebuah desa terpencil tidak dikenal, menjadi kota yang ramai. Bangunan-bangunan didirikan menjulang dan benteng perbatasan mulai dibangun disekitarnya pada masa pemerintahan Badr Abu Thuwairiq di tahun 922 H. Benteng perbatasan ini memanjang dari Suhail samapai benteng Duweil dan membelok di depan pemakaman (sekarang) mengarah ke barat hingga gunung al-Qibali. Adapun pintu kota yang disebut ’as-Siddah’ terletak di seberang rumah sakit pemerintahan (sekarang). Benteng itu bertahan hingga tahun 1347 H.

Nilai lebih kota Sewun dari kota-kota lainnya di Hadramaut antara lain : terletak di tengah-tengah lembah Hadramaut, antara kota Syibam dan kota Tarim. Kota ini beriklim sedang. Di musim kemarau, udara pada malam hari juga sedang. Kotanya luas dan masih bisa diperluas lagi, sehingga Sewun juga dikenal dengan nama at-Tawilah.

Kini Sewun kian moderen. Sebuah bandara dibangun di kota ini sebagai pendarat pesawat-pesawat milik maskapai penerbangan Yaman. Di kota ini juga terdapat sebuah pasar besar yang selalu ramai. Pengunjungnya tak hanya masyarakat Sewun, namun juga warga dari beberapa daerah di sekitar Sewun, seperti desa Maryamah, Bur Atsariyah, Urudh Syuqair dan Hauthah Sulthanah. Selain itu Sewun juga mempunyai 3 pasar di jantung kota yang juga ramai. Rumah sakit terbesar di Hadramaut juga ada dikota ini yang juga dilengkapi dengan apotik.

Sewun memiliki banyak masjid, total berjumlah 60 masjid. Yang terkenal adalah masjid Riyadh, masjid Thoha dan masjid Jami’ Sewun.

Diantara ulama-ulama Sewun yang terkenal antara lain : Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, Habib Thah bin Umar as-Shafi Assegaf, Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, Habib Segaf bin Muhammad Assegaf, Habib Umar bin Segaf Assegaf, Habib Abdulqadir bin Qutban, Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Syekh Umar bin Abdullah Bamakhramah, dan lain-lainnya.

 

Sumber : http://qolbunsalim.com/sewun/