Hati yang Terhijab

by Yg punya blog

Fungsi hati yang demikian ajaib, bagi kebanyakan orang menjadi sirna. Hal ini dikarenakan hatinya terhijab dengan Allah Ta’ala. Hati manusia dapat terhijab dari Allah Ta’ala disebabkan karena hal-hal sebagi berikut :

Pertama, selalu mempertuhankan atau merelakan dirinya untuk menjadi hamba dari hawa nafsu, sehingga ia menjadi orang yang melampaui batas. 
Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa najsu mereka. [QS. Muhammad (47) : 16]

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafiunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). [QS. Al Furqaan (25) : 43-44]

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) Maka mengapa kamu tidak mengambilpelajaran [QS. Al Jatsiyaat (45) : 23]

dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas. [QS. Al Kahfi (18) : 28]

Ban tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampui batas lagi berdosa, yang apabila dibaeakan kepadanya ay at-ay at Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu\ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [QS. Al Muthaffifiin (83) : 12-14]

Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. [QS. Yuunus (10) : 74]
Darijabir RA. Rasulullah SAWbersabda : Kita kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar yaitu melawan hawa najsu”. (HR Al Baihaqy dengan sanad lemah)

Orang yang tidak mau mengendalikan dirinya dari pengaruh hawa nafsu dan syahwat berarti ia tidak mau melakukan peperangan (jihad) yang besar.

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui. [QS. At Taubah (9) : 87 Referensi QS 9:93]

Kedua, karena selalu merelakan dirinya untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya, tanpa disadari ia lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. [QS. An-Nahl (16) : 107-108]

Baik mempertuhankan hawa nafsu maupun terlalu mencintai kehidupan duniawi, termasuk perkara-perkara yang paling dibenci Allah Ta’ala. Dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah Ta’ala adalah dosa. Jadi pada dasarnya, gelapnya hati seseorang tersebut karena dosa-dosa.

Imam Al Ghazaly mengatakan bahwa hal-hal tercela (dosa), seperti asap yang menggelapkan, yang mengotori kaca hati. Dan senantiasa bertambah tebal dengan terus menerus melakukan dosa. Sehingga hati itu hitam dan gelap. Dan secara keselurahan hati itu menjadi terdinding dengan Allah Ta’ala.

Apabila hati seorang manusia gelap gulita karena diliputi oleh dosa-dosa, didalamnya dipenuhi oleh berhala-berhala, tuhan-tuhan manusia selain Allah Ta’ala berupa syahwat dan hawa nafsu, maka hati tersebut menjadi mengeras lebih keras dari batu. Sulit untuk berserah diri kepada Allah Ta’ala. Dan jiwa yang seperti ini menjadi ajang permainan dan tipu daya syaithan.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. [QS. Al Baqarah (2) : 74]

… bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. [QS. Al An’aam (6) : 43]

Dengan tertutupnya hati dari cahaya Allah, maka menyempitiah dadanya. Tertutuplah ia dari bimbingan Allah Ta’ala. Terlepaslah ia dari petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala, dan terjatuh ke tangan syaithan yang akan membawanya kepada kesesatan.
Tidak ada pimpinan Allah Ta’ala bagi yang tidak memiliki cahaya iman.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orangyang tidak beriman. [QS. Al A’Raaf (7) : 27]

Dan syaithan pun membawa lari orang-orang yang tidak beriman semakin jauh dan tersesat dari shiraathal mustaqiim.
saya (Mis, syaithan) benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari shiraathal mustaqiim. [QS. Al A’Raaf (7) : 16]

Sedangkan pemimpin (pemberi petunjuk) orang-orang yang telah dianugerahi cahaya iman adalah Allah sendiri. Dipimpin untuk menuju shiraathal mustaqiim.
sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraathal mustaqiim. [QS. Al Hajj (22) : 54]

Jika hati seseorang telah tertutup dinding, maka di dunianya menjadi gelap gulita, tidak bisa melihat shiraathal mustaqiim.

Jika kondisi kebutaan ini terbawa ke alam kubur ketika ajalnya, maka keberadaanya di alam kubur yang asing dalam kondisi buta, merupakan kegelapan diatas kegelapan. Jauh lebih tersesat jalannya. Lebih-lebih jika kondisi butanya terbawa ke alam akhirat.
Semoga Allah menjauhkan kita dari kondisi yang seperti ini.

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat jalannya. [QS. Al Israa’ (17) : 72]

Yang buta atau ditutup dalam ayat ini bukanlah mata jasmaniyah (mata inderawi). Sebab mata jasmaniyah orang tersebut melihat dunianya dan tidak ada sesuatupun yang menutupinya. Yang buta dan gelap gulita adalah mata hatinya.
Karma sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [QS. Al Hajj (22) : 46]

Seorang mukmin mendapat petunjuk Allah Ta’ala sebab hatinya memang mampu menerima bimbingan-bimbingan-Nya. Tetapi seorang yang mata hatinya buta dan telinga hatinya tidak mendengar, maka ia akan menemui kesesatan dari jalan Allah, dikarenakan tidak memahami petunjuk-petunjuk-Nya.

Bagaimana mungkin dapat memberi petunjuk kepada orang lain, kalau dirinya sendiri buta dan tuli yang menyebabkan lisannya bisu dalam menyuarakan kebenaran.
Karena tidak bisa melihat dan mendengar, kelak di hari kiamat ia akan digiring ke Jahannam dengan cara di seret oleh malaikat.

Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatpenolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. [QS. Al Israa’ (17) : 97]

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ta Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihaf [QS. Thahaa (20) : 124-125]

Sebagian besar jin dan manusia akan memasuki jahanam, di dalamnya ada yang hanya singgah untuk melakukan penebusan atas dosa-dosanya, ada pula yang menjadi penghuni-penghuni tetapnya.

Orang yang hatinya telah mengeras, tidak ubahnya bagai binatang ternak, walaupun mata jasamaniyahnya melihat dan telinganya mendengar tetapi ternak-ternak tersebut tidak akan mengerti apa-apa seandainya mereka diberi pengajaran-pengajaran. Hidupnya hanya tercurah untuk memuaskan syahwatnya semata.

Kebanyakan manusia bagaikan binatang ternak, walaupun diberi akal lebih dibandingkan dengan binatang ternak, tetapi akalnya telah tumpul untuk menuju kepada kebaikan karena dosa-dosa. Potensi akal dan jasmani yang dianugerahkan Allah kepada seorang manusia, yang hidupnya bagaikan binatang ternak, malah semakin menurunkan derajat orang tersebut di sisi Allah Ta’ala menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang temak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. [QS. Al A’raaf (7) : 179]

Itulah seburuk-buruk binatang dalam pandangan Allah.

Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuliyang tidak mengerti apa-apapun. [QS. Al Anfal (8) : 22]

Jelaslah Allah tidak akan sudi bertemu dengan seseorang yang menempel pada dirinya dosa yang dikarenakan sesuatu yang tidak diskuai-Nya.

Padahal setiap ketertutupan dari Allah Ta’ala adalah kebinasaan. Seandainya kita datang menghadap Allah Ta’ala dengan membawa hanya sebutir dosa sekali pun, kita tidak akan selamat dari pembersihan jahanam.

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. la tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), [QS. Thahaa (20) : 74-75]

Dosa itu sendiri bertingkat-tingkat. Mulai dari dosa tingkat rasa, karsa (keinginan), eipta (pikiran), dan karya (amal). Sebagai contoh orang yang ujub (bangga diri), merasa lebih dari yang lain (dalam hal apa pun), maka hatinya menjadi berdosa pada tingkat rasa.
Bangga diri ini membawa seseorang kepada kesombongan hati, yang tiada seorang pun mengetahui kecuali Allah Ta’ala dan mereka yang diberi izin oleh-Nya untuk mengetahui.
Rasa sombong dan bangga diri adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Maka hal itu adalah dosa. Dan setiap dosa akan dilebur di Jahanam walaupun hanya sebesar dzarrah.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. [QS. Al Hadiid (59) : 23]

Dari Abdullah bin Mas’ud R.A, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walaupun hanya sebesar dzarrah* … “Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. [Hadits Riwayat Muslim].

Demikian pula dosa akibat karsa (keinginan atau kemauan). Kemauan hams disesuaikan dengan kemampuan. Kemauan harus sesuai dengan kepantasan atau kelayakan dan situasi serta kondisi lingkungan. Mengutamakan yang perlu dan penting dalam setiap aktivitas. Dosa akibat cipta (pilkiran) dapat terjadi karena tidak menggunakan akal pildran sesuai dengan porsinya dan tidak sia-sia.

Dalam karya (amal) dapat terjadi dosa karena tidak pandai menyesuaikan, menempatkan dan mengatur tingkah laku dan bicaranya. Dalam setiap karya harus dilakukan dengan perilaku dan bicara baik.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. [QS. Luqman (31) : 19]

Dari Jabir bin Abdullah RA. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang aku cintai dan orang yang paling dekat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang sangat baik budi pekertinya. Dan orang-orang yang sangat aku benci dan orang-orang yang jauh tempat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang suka berbicara, orang-orang yang berlagak fasih dan orang-orang yang bermulut besar [HR Turmudzi].

Dosa-dosa itulah yang menghalangi seorang hamba untuk dapat diterima Allah Ta’ala. Padahal keselamatan itu hanyalah di sisi Allah dan bersama Allah. Seandainya ada sesuatu yang menghalangi diri kita dengan Allah Ta’ala, dan dengan Rahmat-Nya, maka tiada tempat lain kecuali kecelakaan yang besar.

barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka, mereka kekaldidalamnya. [QS. Al Baqarah (2) : 81]

Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. [QS. Yunus (10) : 17]
Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menydamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [QS. Maryam (19) : 71-72]

Kecelakan besar bagi orang-orang yang dzalim. Orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri, orang-orang yang tidak mau membersihkan diri dari dosa-dosanya (berat ataupun ringan). Orang-orang tidak mau bertaubat atas dosa-dosa maka itulah orang-orang yang dzalim.
… dan barangsiapayang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. [QS. Al Hujuraat (49) : 11]

Tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dengan ikhlas, dengan hati yang bersih, selamat dari pengotoran dosa-dosa, tiada setitik dosapun yang menghalangi dirinya dengan Allah Ta’ala.
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat). [QS. Asy Syu’araa’ (26) : 89]

Jika hati kita sudah gelap gulita karena tertutup dosa-dosa, maka yang berwenang dan mampu membersihkan dan membuka kembali hati kita hanya Allah Ta’ala.
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamuT [QS. Al An’aam (6) : 46]

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih Sebenamya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. [QS. An-Nisaa’ (4) : 49]

Ya Alloh..bukakan hijab pada hatiku…….,hilangkan noda hitam yang terus membesar

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://sufiroad.blogspot.com/