Ilmu Agama dan Kebahagiaan

by Yg punya blog

islamBila mengerti dan memahami ilmu agama dalam menjalani kehidupan, kita akan merasakan kebahagiaan dalam setiap jengkal dan episode kehidupan yang kita jalani. Bukankah segala kenikmatan asalnya hanya dari Allah? Apa yang kita lakukan dan kerjakan tidak akan pernah terwujud tanpa ada izin dari Allah SWT.

Andaikan kita menjalankan shalat lima waktu, menjalankan perintah Allah, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Baitullah, zakat bagi yang mampu, berakhlaq dengan akhlaq yang baik, sudah barang tentu, bila semua konsep Islam itu kita laksanakan, otomatis kita pun akan dihormati masyarakat. Di dunia saja kita akan bahagia, apalagi di akhirat kelak, karena semua kebaikan itu akan mendatangkan keberkahan, dan keberkahan akan mendatangkan kebahagiaan.

Keberkahan mustahil akan kita dapatkan dengan kemaksiatan, melainkan hanya didapatkan dengan kebaikan. Landasan untuk hal ini adalah sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “Apabila hamba-Ku taat kepada-Ku, Aku ridha kepadanya; dan bila Aku ridha kepada-Nya, Aku akan berkati kehidupannya. Dan ingatlah, keberkahan-Ku tidak hanya terbatas pada cucunya yang ketujuh. Dan apabila hamba-Ku durhaka kepada-Ku, Aku akan murka kepadanya; dan bila Aku murka kepadanya, Aku akan melaknatnya. Dan ingatlah, laknat-Ku itu akan sampai kepada keturunannya yang ketujuh.”

Tidak mungkin kebahagiaan akan didapatkan kecuali dengan adanya pedoman, tuntunan, dan konsep.

Lalu di mana kita dapatkan tuntunan itu? Jawabnya adalah syari’at Islam.

Di antara hal yang sangat dianjurkan dan diperintahkan oleh syari’at adalah mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah lalu. Kita mengambil pelajaran dari pribadi-pribadi yang telah menjadikan agama sebagai konsep dan pedoman dalam hidupnya.

Sosok pertama yang mesti kita ambil pelajaran darinya adalah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW

Bila kita menganggap problem dan masalah yang kita hadapi ini selama ini begitu berat, itu tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan problem yang dihadapai oleh Nabi. Padahal andaikan beliau meminta dan berdoa, pasti akan diterima oleh Allah SWT.

Setiap kali Nabi berdakwah, orang-orang kafir melempari beliau, menampar, dan menghina beliau. Bahkan suatu ketika, pada saat Nabi SAW tengah sujud di Ka`bah, seorang kafir Quraisy yang bernama Utbah bin Abi Mu`id membawa sekantung kotoran unta yang telah tersimpan selama tiga hari tiga malam lalu mengangkatnya tepat di atas kepala Nabi SAW dan merobeknya sehingga mengotori kepala dan wajah Nabi SAW.

Suatu ketika orang-orang kafir Quraisy menyewa seorang Yahudi untuk menyakiti Nabi. Di lorong yang biasa di lewati Nabi SAW untuk menuju Ka`bah, orang Yahudi itu berdiri untuk menunggu Nabi SAW. Di saat Nabi lewat, dia memanggil Nabi.

Beliau pun menengok, karena beliau tidak pernah mengecewakan siapa pun yang memanggilnya. Di saat itulah Yahudi tadi meludahi wajah Rasulullah SAW.

Nabi tidak sedikit pun marah atau menghardik Yahudi itu.

Keesokan harinya, Nabi kembali berjalan di tempat yang sama. Tidak sedikit pun beliau merasa dendam atau berusaha untuk menjauhi jalan tersebut. Sesampainya di tempat yang sama, Nabi pun kembali dipanggil dan diludahi seperti sebelumnya.

Demikianlah kejadian itu terus berulang selama beberapa hari hingga pada suatu hari Nabi tidak mendapati lagi orang yang meludahinya selama itu. Nabi pun bertanya dalam hatinya, “Ke mana gerangan orang yang selalu meludahiku?”

Setelah menanyakannya, tahulah Nabi bahwa orang tersebut jatuh sakit.

Nabi pun pulang ke rumah untuk mengambil makanan yang ada dan tak lupa pula mampir ke pasar, membeli buah-buahan, untuk menjenguk Yahudi yang tengah sakit itu.

Sesampainya di rumah si Yahudi, Nabi mengetuk pintu.

Dari dalam rumah, terdengar suara lirih Yahudi yang tengah sakit mendekati pintu sembari bertanya, “Siapa yang datang?”

“Saya, Muhammad,” jawab Nabi SAW.

“Muhammad siapa?” terdengar suara Yahudi itu kembali bertanya.

“Muhammad Rasulullah,” jawab Nabi lagi.

Setelah pintu dibuka, alangkah terkejutnya si Yahudi, menyaksikan sosok yang datang adalah orang yang selama itu disakitinya dan diludahi wajahnya.

“Untuk apa engkau datang kemari?” tanya Yahudi itu lagi.

“Aku datang untuk menjengukmu, wahai saudaraku, karena aku mendengar engkau jatuh sakit,” jawab Nabi SAW dengan suara yang lembut.

“Wahai Muhammad, ketahuilah bahwa sejak aku jatuh sakit, belum ada seorang pun datang menjengukku, bahkan Abu Jahal sekalipun, yang telah menyewaku untuk menyakitimu, padahal aku telah beberapa kali mengutus orang kepadanya agar ia segera datang memberikan sesuatu kepadaku. Namun engkau, yang telah aku sakiti selama ini dan aku ludahi berkali-kali, justru engkau yang pertama kali datang menjengukku,” kata Yahudi itu dengan nada terharu.

Keagungan akhlaq Nabi SAW telah meluluhkan hatinya. Ia pun memeluk Nabi dan menyatakan dirinya masuk Islam.

Perhatikanlah, mengapa Nabi tetap bersabar dengan semua perlakuan itu? Dan mengapa Nabi memilih jalan semacam itu dalam hidupnya? Jawabnya, karena Nabi adalah manusia yang paling tahu bahwa dengan cobaan itulah akan didapatkan ridha Allah SWT yang teramat mahal dan berharga, pahala yang besar dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Inilah yang membuat derajat Nabi SAW sangat tinggi sampai pada tingkatan yang tidak pernah dicapai oleh seorang makhluk mana pun selain Nabi.

Sabda Nabi, manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para ulama, kemudian orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka, dan seterusnya.

http://majalah-alkisah.com/index.php/zawiyah/726-habib-segaf-bin-hasan-baharun-hanya-dengan-kebaikan