Potret Buram “Pahlawan Devisa”

by Yg punya blog

Begitu tragis nasib yang menimpa Ruyati binti Satubi yang dihukum pancung Sabtu (18/06) lalu. Kemalangan yang terus menimpa TKI tak henti-hentinya membuat bangsa ini miris mendengar kabar-kabar tersebut. Faktor ekonomi yang selalu menjadi alasan mereka tetap memilih merantau ke luar negeri untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik dikampungnya.

Iming-iming gaji yang besar dan resiko besar pun terus mengintai. Tak sedikit TKI yang kembali ke tanah air hanya membawa nama saja, seperti Isti Komariyah (26) TKI asal Banyuwangi yang disiksa oleh majikannya hingga tewas. Gaji tak dapat dan nyawa pun melayang.

Terkait hukuman pancung Ruyati, Pemerintah Indonesia yang dinilai lalai dan lamban sehingga mengakibatkan seorang warganegaranya tewas tanpa adanya upaya diplomatis yang solutif. Pada zaman pemerintahan Gus Dur, ia melakukan diplomasi tingkat tinggi dengan melobi langsung kepala negara. Namun, sepertinya sulit sekali mengharapkan diplomasi tingkat seperti ini karena pemerintahan SBY tidak biasa menyelesaikan masalah yang beresiko.

Yenny Wahid pun mengatakan bahwa sebenarnya Ruyati bisa diselamatkan atau melindungi TKI lainnya yang sedang dalam ancaman hukum di negara lain apabila Pemerintah memang punya kepedulian dan kesungguhan. Kenapa SBY tidak melakukan upaya yang sama? Ironisnya,  dalam pidato di ILO, SBY mengatakan bahwa mekanisme perlindungan tenaga kerja di Indonesia telah berjalan. SBY juga mengungkapkan Indonesia telah membentuk regulasi dan institusi untuk menangani tenaga kerja Indonesia saat ini. Bahkan, klaim SBY itu membuat ILO beranggapan upaya Indonesia itu harus dicontoh oleh negara-negara lain di dunia.

Jaminan terhadap perlindungan hukum tampaknya hanya isapan jempol belaka. Terbukti keterlambatan untuk mengetahui masalah WNI di luar negeri menjadi bentuk ketidakpedulian dan ketidaksanggupan negara dalam memberikan perlindungan. Ketiadaan informasi adalah fatal bagi negara. Bila kejadiannya sudah seperti ini pemerintah baru tergopoh-gopoh mencari informasi.

Sudah banyak TKI yang mengalami gangguan kejiwaan akibat stress menghadapi perbuatan para majikan dan parahnya lagi banyak pula mereka yang dianianya hingga cacat fisik, Sungguh malang nasib para TKI, yang seharusnya pulang membawa uang tetapi malah pulang membawa bencana bagi keluarganya.

Para elite di negara ini nampaknya tak mau belajar dari pengalaman masa lalu, mereka hanya bisa berkoar-koar mencari solusi, yang kami tunggu adalah tindakan nyata. Urusan TKI bagaikan benang kusut yang tak jelas ujung pangkalnya, begitu sulitnya  mencari akar masalah ini.

Seakan dipaksa untuk menerima keadaan tersebut terjadi, tanpa kita bisa menolak dan menghentikannya berulang. Di Malaysia, Saudi Arabia, Brunei, Hongkong, dan negara lainnya, TKI masih dipandang sebelah mata, bahkan oleh elite politik di negeri ini. Mereka dipandang sebelah mata, walau kenyataannya TKI penyumbang devisa negara yang cukup tinggi.

Memang tidak semua TKI yang mengalami kejadian yang mengerikan, banyak juga yang berkehidupan sejahtera di negeri orang, tetapi lagi-lagi masalah tak pernah lepas dari para TKI ini. Kepulangannya ke tanah air masih saja mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman. Ketika sampai di bandara berbagai pungli sampai penyanderaan barang bawaan dengan alasan tidak masuk akal masih saja terjadi. Di negeri sendiri pun masih saja dipersulit dengan kebejatan para oknum. Pemerintah harusnya sadar bahwa TKI telah memberikan peran sebagai penyumbang devisa yang cukup tinggi Tetapi, jaminan keberadaan dan  keselamatan bagi mereka belum  pasti didapatkan dengan layak.

Semakin sulit sekali mendapatkan perlindungan hukum. Bangsa ini bukan hanya butuh janji tapi juga realita. Pepatah “sedikit berbicara tapi banyak berbuat” itu yang kita tunggu dari pemerintah. Seharusnya jika pemerintah serius dengan permasalahan ini, sudah ada perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Harapan kita semoga permasalahan ini dapat segera terselesaikan walau sedikit demi sedikit dengan tindakan real pemerintahan di negeri ini.

Dimuat di JadiBerita.com