Nasi Uduk, Kuliner Khas Betawi yang Lezat

by Yg punya blog

NA­SI u­duk a­da­lah sa­lah sa­tu ku­li­ner khas In­do­ne­sia yang cu­kup di­ge­ma­ri. Ra­sa gu­rih yang ber­a­sal da­ri san­tan sa­ngat fa­mi­li­ar de­ngan lidah orang Indonesia. Apalagi jika menyantapnya dalam keadaan hangat-hangat ku­ku. Aroma daun salam dan se­rainya sangat menyengat se­hingga sangat menggugah se­lera untuk menyantapnya.
Biasanya, nasi uduk ini dijadi­kan salah satu pilihan untuk sa­rapan pagi disertai beragam pi­lihan lauk pelengkap, seperti te­lur dadar yang diiris halus, ke­ring tempe, bihun goreng, dan se­mur jengkol. Lebih meriah la­gi jika dilengkapi dengan ke­rupuk dan sambal kacang.

Namun sayangnya, masih se­dikit rumah makan di Kota Pang­kalan Bun, Kotawari­ngin Ba­rat (Kobar) yang menyedia­kan menu nasi uduk beserta pe­lengkapnya. Meski begitu, peng­gemar jengkol tidak perlu khawatir. Kita bisa membuat nasi uduk sendiri di rumah karena caranya tidak terlalu sulit. Bahkan, bumbu yang diperlukan pun cukup sederhana seperti, santan, daun salam, serai, dan jangan lupa diberi garam secukupnya.
Proses pembuatan sama se­perti memasak nasi biasa. Na­mun, untuk mendapatkan ra­sa yang lebih enak lagi, ada ba­iknya memasak nasi uduk de­ngan cara manual atau tidak meng­gunakan rice cooker.

Semur jengkol
Bagi sebagian orang, jengkol men­jadi salah satu menu yang pa­ling dihindari karena bisa me­nimbulkan bau mulut yang ti­dak sedap. Meskipun bau dan dianggap makanan kurang ga­ul, jangan remehkan jengkol. Se­lain sangat kaya akan vitamin C, ternyata kandungan proteinnya lebih tinggi dari tempe.
Bagi sebagian besar orang, ma­kan jengkol mungkin meru­pa­­kan sesuatu hal yang mema­lukan. Makanan yang satu ini me­mang sangat kontroversial. Mes­kipun tanpa bau saat mema­kannya, orang-orang di sekeli­ling sudah terlebih dahulu me­nutup hidung.

Jengkol juga sering diang­gap sebagai makanan kelas rendah, tapi hasil penelitian menunjukkan bahwa jengkol juga kaya akan karbohidrat, protein, vitamin A, dan saponin (lihat tabel).
Di sisi lain, mengonsumsi jengkol berlebihan juga dapat menyebabkan keracunan. Ge­jala keracunan jengkol ada­lah nyeri pada perut, ka­dang-kadang muntah, nyeri waktu buang air kecil, urine berdarah, pengeluaran urine sedikit dan terdapat titik-titik putih seperti tepung, bahkan urine tidak bisa keluar.
Keluhan pada umumnya timbul dalam waktu 5-12 jam setelah mengonsumsi jengkol. Hal itu terjadi karena kandungan asam jengkolat di dalamnya. Jika keracunan jeng­kol, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengonsumsi air putih yang banyak supaya kadar asam jengkolat lebih encer, sehingga mudah dibuang melalui urine.

[Sumber : www.borneonews.co.id ]