Sinopsis Sahabat Sejati

by Yg punya blog


friendship

Ilustrasi persahabatan

Sajian anak di Indosiar kini bertambah dengan hadirnya sebuah sinetron anak berjudul Sahabat Sejati. Petualangan dua orang anak menjadi inti cerita sinetron yang ditayangkan mulai Sabtu (18/06) pukul 17.00 WIB.

Adegan dibuka pada satu senja di tepi danau Batur (atau tempat indah lainnya). Seorang anak perempuan sedang mengajuk. Ia tampak sedih.Tangannya memegang leontin kalungnya. Seakan kalung itu mempunyai nilai sejarah yang tinggi.

Suster atau perawat atau pengurus panti datang mendekat mencoba merayu. Mengajaknya pulang. Tapi anak perempuan itu masih mengajuk. Ia tetap ingin pergi meninggalkan Bali menuju Medan untuk mencari orangtuanya.

“Nanti kalau umurmu sudah cukup pasti kamu bisa pergi. Kamu masih kecil nggak semua orang yang kautemui di jalan orang baik-baik”, kata pengurus panti tersebut.

Dan setelah melalui rayuan yang lama akhirnya anak itu mau juga diajak pulang ke Panti Asuhan. Tapi disana rasa penasarannya belum tuntas. Sudah sejak beberapa tahun ini ia mencari tahu dimana orangtuanya berada.

Ia mulai mencari barang-barang yang bisa menjadi petunjuk kemana harus mencari ayah dan ibunya. Seperti foto keluarga, juga bertanya pada orang-orang yang bisa dimintai informasi tentang itu. Rasa ingin taunya makin tinggi keinginan pergi makin sulit dibendung. Namun ibu Panti yang amat perhatian selalu mengingatkannya untuk tidak pergi. Bahkan acap menyarankan agar ia mau berkompromi menunggu saat umurnya cukup, hingga bisa leluasa pergi mencari orangtuanya.

Di tempat lain ada seorang anak laki-laki asal Jakarta yang karena nilai ujian SDnya bagus, Bintang dapat ijin dari papinya pengusaha sukses di Jakarta, untuk liburan sendiri di Jakarta. Dan Bintang memilih liburan di Bali. Sang Papi sudah mereservasi hotel terbaik dan meminta salah seorang kenalannya untuk menjemput Bintang di Airport Ngurah Rai dan menemaninya selama liburan. Soalnya, baik papi maupun maminya sangat sibuk, sehingga nggak bisa ikut berlibur bersama Bintang.

Tapi sudah dua jam menunggu sang penjemput nggak datang juga. Akhirnya Bintang nekat naik taksi sendiri dan pergi ke hotel yang dituju.

Sore hari, karena sendirian ia menyewa taksi untuk berkeliling melihat-lihat daerah sekitar Kuta dan Denpasar. Saat turun dari taksi ketika akan menyeberang ke salah satu tempat tujuan wisata, sebuah mobil meluncur deras. Bintang tidak mengetahuinya, ia asyik jalan memunggungi mobil yang meluncur kearahnya dari belakang padahal sang mobil sudah mengelakson dengan kencang.

Pada sepersekian menit tiba-tiba ada yang meloncat mendorong tubuhnya ke tepi jalan. Bintang kaget lebih kaget lagi ketika bangun tubuhnya ditindih anak perempuan yang lebih kecil darinya. Anak itu cantik pelipisnya berdarah. Dan yang membuat Bintang tertegun tubuh kecil anak perempuan itu tidak senormal miliknya. Kedua kakinya kecil hingga masing-masingnya perlu memakai sepatu khusus yang dilengkapi kurk (alat besi untuk menyangga kaki biar kokoh).

Aku ditolong orang cacat? Gumam Bintang dalam hati. Kalau tidak ada anak perempuan senekat ini, mungkin tubuhnya sudah gepeng di aspal dan ia pulang cuma tinggal nama. Namun perempuan cacat ini sudah menyelamatkannya, menghindarkannya dari maut!

Sebagai upah karena telah menolong dirinya Bintang mentraktir anak itu. Tapi sang anak cuma mau minum teh es manis, tidak lebih. Bahkan perempuan kecil itu juga minta maaf karena sudah nekat menubruk Bintang agar ketepi.

“Kalau nggak saya pasti sudah gepeng kelindes mobil”, kata Bintang jujur. “Atau paling apes cacat…” sambungnya lagi.

Anak perempuan itu pamit. Bintang mengira ia sudah menyinggung perasaan si anak. Tapi kata si anak, dia harus sudah ada di Panti (sebuah panti asuhan, dimana anak cacat dan normal bersatu) sebelum malam. Bintang pun dengan senang hati mengantarnya.

Keesokannya Bintang datang berkunjung. Disitulah mereka baru cerita banyak, bahwa sebenarnya Bintang kesini dalam rangka liburan. Tapi karena kenalan sang ayah sakit, maka ia liburan sendirian dan nggak tau mesti kemana.

“Nggak asyik jalan-jalan sendirian. Kalo ada yang nemenin pasti oke” kata Bintang. “Kamu mau nggak sih nemenin. Kalo mau kan bisa ke Uluwatu,ke hmh… yang banyak monyet dimana ? Oh iya, Sangeh terus ke…hmh Ubud.

“Mau sih, tapi nanti kamu malah keganggu, soalnya kalo jalan aku mesti pelan-pelan”, kata perempuan kecil bernama Meilan tersebut.

Bintang maklum, dengan senyum tulus dia berujar “Aku juga kalau jalan pelan-pelan takut ngabisin enerji, he he he”.

Dan untuk itu BIntang juga mesti minta ijin Ibu Panti.

Maka dimulailah acara mereka jalan-jalan ke berbagai tempat di Bali. Meilan sampai kaget saat melihat isi dompet Bintang. Ternyata papinya sudah membekalinya dengan sejumlah seratus ribuan. Di perjalann mengunjungi obyek-obyek wisata ini terjalin persahabatan diantara mereka. Sekaligus juga sebagai tampilan obyek-obyek wisata terbaik di Bali.

Nah, proses jalan-jalan ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan perasaan dan nilai-nilai pertemanan mereka. Dalam jalan-jalan bersama yang mungkin dilakukan sambil membooking mobil mereka saling curhat. Bintang selalu mengeluh tentang sekolah yang makin lama semakin bikin bosen atau peraturan rumahnya teramat disiplin bikin dia terkekang yang membuat ia ingin liburan terus sepanjang hari. sedangkan Meilan, malah menceritakan obsesinya untuk meninggalkan Panti dan mencari kedua orangtuanya.

“Tapi kalo udah ketemu apa mereka mau ngakuin aku sebagai anaknya ya?” tanya Meilan ragu. “Dulu mereka membuangku karena aku cacat”.

“Sekarang mereka pasti menyesal, karena kamu udah tambah gede, cantik dan bisa nyelamrtin nyawa orang. Jadi kalo kalian bertemu nggak ada alasan buat orangtuamu menolak kamu!”

sampai satu saat Bintang bertanya kenapa Meilan sangat takut monyet-monyet di Sangeh menarik kalung dengan leontin hati di lehernya. Pasti ada apa-apanya. Meilan pun cerita soal ayah dan ibunya. Di dalam leontin itu ada foto ayahnya dan ibunya. Mereka sebenarnya masih sayang sama Meilan, tapi dulu Meilan ditaruh di Panti karena kakek sang ibu nggak mau punya keturunan cacat.

“Tapi aku yakin mereka masih sayang sama aku. Buktinya kalau aku sakit aku cukup mencium leontin ini dan biasanya aku cepat sembuh”, kata Meilan menutup ceritanya.

Cerita Meilan, membuat Bintang simpati. Meski terkadang ia kelihatan lemah karena cacat dan keterbatasannya Meilan selalu ingin kelihatan lebih kuat dan lebih mandiri. Bahkan ia sering melawak. Seperti “Awas manusia robot mau lewat”, katanya saat melintasi kerumunan turis bule. Kakinya yang disangga kurk besi dan jalannya yang tertatih satu-satu serta lamban memang membuat kaki itu seperti kaki robot.

Satu ketika Bintang kembali mendatangi Meilan ke Panti. Ia melihat Ibu Panti sedang sibuk mempersiapkan baju dan peralatan sembahyang. Ia dengan lugu bertanya ke Ibu Panti mau ada apa. Ternyata beliau diundang oleh Raja Karangasem untuk hadir di pesta pernikahan anak sang raja. Karena Ibu Panti masih merupakan kerabat dekat sang raja Karangasem.

Bintang bilang, kalau ia ingin sekali menghadiri acara tersebut. Kalau harus bayar ia akan telepon ayahnya ke Jakarta berapapun. Keinginannya menggebu karena menurut cerita Ibu Panti upacara ini mungkin yang terakhir kali terjadi di Bali, terutama di Kerajaan Karangasem. Jadi Ibu Panti tak akan menyia-nyiakan kesempatan menghadiri undangan tersebut.

Karena Bintang terus meminta agar diajak akhirnya Ibu Panti mau juga mengajaknya. Bukan cuma Bintang, Meilan pun ikut diajak. Maka keduanya pun hadir di pesta dan upacara yang sakral dan mempesona tersebut.

Usai acara, Meilan akhirnya bilang terus terang sama Bintang “Ada nggak ya yang mau mempekerjakan anak cacat seperti aku?”

“Lho kok kecil-kecil udah mau kerja?” tanya Bintang lugu.
“Iya soalnya kalo aku dapet duit aku mau ke Medan. Terakhir kudengar ayah ibuku ada di Medan. Aku mau kesana mencari mereka”.

“Aku punya uang. Nggak banyak tapi…kita bisa kesana kalau kamu mau”.

“Gimana cara gantinya?”

“Nggak usah diganti”, tukas Bintang, “Tetapi justru aja duitku nggak cukup buat bayar tiket apa-apa. Mungkin kita bisa numpang bus ke Jawa, lalu naik apalagi yang penting sampe di tempat tujuan”.

“Nanti kalo ayah kamu nyari gimana?”

“Dia udah nyari, tapi…kayaknya aku baru sadar, kalo liburan tuh nggak cukup seminggu harus setahun!”

Sekarang ia sudah punya Bintang sebagai teman perjalanannya dalam mencari orangtuanya, tapi Ibu Panti pasti nggak akan mengijinkannya. Satu-satunya jalan terbaik adalah kabur dari Panti sambil meninggalkan sepucuk surat kecil berisi ucapan terimakasih dan mohon maaf karena pergi tanpa pamit.

Bintang juga meninggalkan hotel tempatnya menginap sambil meninggalkan memo bahwa seluruh tagihan hotel bisa ditagihkan ke alamat ayahnya di Jakarta. Ia membawa semua isi kopernya yang menurutnya pasti akan berguna dalam perjalanan mereka nanti. Mungkin saat kepepet baju-baju itu bisa dijual untuk tambahan ongkos perjalanan mereka.

Dalam pikiran Bintang sudah lama ie memimpikan petualangan ini. Dan sudah lama ia ingin kabur dari sekolah dan berkelana di jalanan. Bebas tanpa aturan. Kebetulan. sekarang ada yang ngajakin bertualang. Meski orang itu baru dikenalnya, ia seperti mengalami Dejavu bagai telah mengenal Meilan beberapa tahun sebelumnya.

“Kamu bener nih mau nemenin aku?” tanya Meilan.

Dengan jenaka Bintang mengangguk. gila gue udah ngepak baju dan kabur dari hotel, bahkan udah siap ninggalin sekolah kok cewek ini masih ragu?

“Kamu nggak akan keganggu nemenin cewek cacat kayak aku?”

“Itulah gunanya teman”, senyum bintang sambil mengedipkan sebelah matanya.

Maka merekapun memulai perjalanan dan petualangan yang semakin lama makin mengikatkan persahabatan mereka.

Dalam perjalanan menuju Gilimanuk di pelabuhan ia sempat dikompas preman. Bintang melawan. Tapi gagal. Tas Bintang dan uangnya raib diambil preman. Yang bisa diselamatkan cuma tas Meilan yang berisi kenangannya bersama orangtuanya. Maka mereka pun memulai perjalanan tanpa uang sesenpun.

Merekapun berpetualang dari satu daerah ke daerah lain. Dan Banyuwangi ke Surabaya lalu ke Bromo, ke Semarang, ke Solo dan Yogya, ke Bandung, Cirebon dan ke Jakarta, terus hingga ke Medan. Di setiap daerah yang disinggahi mereka bertemu dengan banyak orang beragam karakter dan mengalami aneka peristiwa dari yang menyenangkan hingga mengenaskan. Misalnya di Banyuwangi, Meilan sempat belajar menari dan berjalan tanpa tongkat. Di Bromo, diantara hamparan laut pasir, Meilan dan Bintang mencoba menjadi penarik kuda untuk turis. Di YOgya, Meilan dan Bintang menutupi kekurangan uangnya dengan membantu menjual gerabah di Kasongan.

Tiap episode menghadirkan bintang tamu dari yang muda seperti Denada sampai yang senior, Niniek L. Karim.

Sinetron ini tidak cuma memotret kisah pencarian anak akan orangtuanya tapi juga pesona alam Indonesia persahabatan, kultur dari setiap tempat yang disinggahi dalam kacamata anak-anak yang ringan dan cair.

Jadi jangan pernah Anda lewatkan sajian sinetron Sahabat Sejati yang hadir setiap Sabtu pukul 17.00 WIB hanya di Indosiar.

[Sumber: Indosiar]

About these ads